Laporan Khusus: Jejak Sains dan Kemanusiaan Perguruan Tinggi di Pusaran Bencana Palu-Donggala

Laporan Khusus: Jejak Sains dan Kemanusiaan Perguruan Tinggi di Pusaran Bencana Palu-Donggala

SuperAdmin
SuperAdmin 06 Apr 2026

#Laporan Khusus: Jejak Sains dan Kemanusiaan Perguruan Tinggi di Pusaran Bencana Palu-Donggala

PALU – Enam tahun berlalu sejak tragedi 28 September 2018, ingatan akan gempa magnitudo 7,4, tsunami senyap, dan tanah yang mencair (likuefaksi) di Sulawesi Tengah masih membekas kuat. Di tengah puing-puing kehancuran yang melumpuhkan Palu dan Donggala, muncul satu kekuatan krusial yang jarang tersorot secara utuh: peranan perguruan tinggi.

Bukan sekadar "menara gading" akademis, institusi pendidikan tinggi di Indonesia membuktikan diri sebagai pilar vital dalam manajemen bencana, mulai dari detik-detik awal tanggap darurat hingga perumusan ulang tata ruang kota yang berbasis sains.

#Menjawab Teka-Teki "Tsunami Senyap"

Salah satu polemik terbesar pascabencana adalah mekanisme tsunami di Teluk Palu. Gempa utama yang bersumber dari Sesar Palu-Koro adalah tipe sesar mendatar (strike-slip) yang secara teoritis jarang memicu tsunami besar. Namun, kenyataannya, tsunami setinggi 1,5 hingga lebih dari 11 meter (di titik tertentu seperti Tondo) menghantam pesisir dalam waktu sangat singkat.

[Image 1: Diagram Geologi Sesar Palu-Koro dan Longsoran Bawah Laut]

"Di sinilah riset perguruan tinggi masuk," ujar ahli geologi. Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Indonesia (UI) segera turun ke lapangan dan ke perairan Teluk Palu.

Hasil analisis batimetri dan pemodelan gabungan menyimpulkan bahwa tsunami dahsyat tersebut dipicu bukan hanya oleh dislokasi vertikal kecil akibat gempa, tetapi juga oleh longsoran sedimen bawah laut yang masif di dalam teluk. Penemuan ini sangat krusial karena validitas data sains dari universitas-universitas inilah yang kemudian menjelaskan mengapa peringatan dini tsunami dari BMKG diakhiri: tsunami gelombang pertama memang sudah terjadi dan berakhir dengan cepat akibat longsoran tersebut.

#Universitas Tadulako: Simbol Ketahanan dan Pusat Pemulihan

[Image 2: Foto Kampus Universitas Tadulako yang Rusak Namun Tetap Beraktivitas]

Sementara itu, Universitas Tadulako (Untad) di Palu mengalami pukulan ganda. Sebagai institusi lokal, mereka kehilangan banyak dosen, staf, dan mahasiswa serta mengalami kerusakan parah pada infrastruktur kampus. Namun, Untad menolak untuk lumpuh.

Rektor Untad saat itu menekankan pentingnya moralitas dan keberlanjutan. Dalam hitungan minggu, "Kuliah Darurat" dimulai di bawah tenda-tenda, memastikan mahasiswa tidak kehilangan harapan dan tetap memiliki aktivitas terstruktur untuk menyembuhkan trauma. Untad juga bertransformasi menjadi pusat data lokal bagi BNPB dan lembaga internasional, menyuplai informasi demografis dan geografis yang valid yang sangat dibutuhkan untuk distribusi bantuan.

#Mobilisasi Relawan: Dari Medis hingga Hunian

Mobilisasi kekuatan akademis terlihat nyata melalui pengiriman tim ahli dan relawan:

  • Fakultas Kedokteran (UI, UGM, Unhas): Mengirimkan dokter spesialis bedah, ortopedi, dan tim psikolog untuk menangani trauma healing bagi penyintas yang kehilangan keluarga dan tempat tinggal.

  • Fakultas Teknik (ITB, UGM, ITS): Tim teknik sipil bekerja sama dengan BNPB melakukan audit kelayakan bangunan. Mereka menentukan bangunan mana yang masih aman digunakan dan mana yang harus dirobohkan, serta merancang konsep hunian sementara (hunara) yang cepat dibangun dan ramah bencana.

[Image 3: Tim Relawan Mahasiswa Teknik sedang Melakukan Audit Bangunan Pasca-Gempa]

#Sains Menjadi Kebijakan: Membangun Palu yang Baru

Peran paling jangka panjang dari perguruan tinggi adalah memastikan tragedi ini tidak terulang dengan fatalitas yang sama. Data riset mengenai peta retakan Sesar Palu-Koro dan lokasi presisi likuefaksi di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge menjadi dasar utama dalam Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palu.

Para akademisi merumuskan konsep "Zona Terlarang" (Red Zone), di mana permukiman tidak boleh dibangun kembali di atas lahan yang memiliki potensi likuefaksi tinggi atau tepat di atas jalur sesar aktif. Pembangunan kembali Palu dan Donggala kini berdiri di atas landasan sains yang kokoh, bukan sekadar membangun ulang di tempat yang sama.

Tragedi Palu 2018 menjadi pelajaran berharga bahwa sinergi antara lembaga negara seperti BMKG dan BNPB dengan kekuatan intelektual perguruan tinggi adalah kunci mitigasi bencana di masa depan.

#Sumber Referensi:

Artikel ini disusun berdasarkan kompilasi dan analisis data dari sumber-sumber berikut:

  1. BMKG. (2018). Pemutakhiran Peringatan Dini Tsunami Akibat Gempa M7,4. Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

  2. BNPB. (2018). Laporan Situasi Gempa Bumi dan Tsunami Sulawesi Tengah. Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

  3. Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM. (2018). Analisis Fakta dan Data Gempa-Tsunami Palu-Donggala. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

  4. Tim Riset Mitigasi Bencana ITB. (2019). Laporan Penelitian Terpadu Pascabencana Sulawesi Tengah. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Rektorat Universitas Tadulako. (2018). Laporan Dampak dan Rencana Pemulihan Akademik Untad. Palu: Universitas Tadulako.

Leave a reply